Laman

Minggu, 25 Desember 2011


FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
“Perkembangan Manusia”


Bab I
Pendahuluan
Hakikat perkembanga manusia perlu dibahas lebih dahulu karena pendidikan yang kita dambakan adalah untuk manusia itu sendiri. Mengingat proses kependidikan yang kita dambakan adalah suatu proses pengembangan terhadap kemampuan dasar manusia, maka dengan sendirinya proses tersebut akan berjalan sesuai dengan hukum-hukum perkembangan yaitu hukum kesatuan organis, yang didalam hukum itu menyatakan bahwa perkembangan manusia berjalan secara menyeluruh dalam seluruh organ-organnya, baik itu organ tubuhnya maupun organ rohaniahnya.
Para ahli pendidikan muslim umumnya sependapat bahwa teori dan praktek kependidikan islam harus didasarkan pada konsepsi dasar tentang perkembangan manusia, pembicaraan seputar konsep ini sangatlah vital didalam dunia pendidikan. Tanpa kejelasan tentang konsep hakikat manusia, pasti pendidikan akan meraba-raba.
Uraian tentang perkembangan manusia dalam alam semesta dalam hubunganya dengan filsafat pendidikan islam merupakan bagian yang amat penting untuk dipelajari, karena dengan uraian ini dapat diketahui dengan jelas tentang proses perkembangan manusia tersebut. Uraian ini selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar perumusan tujuan pendidikan dan dapat digunakan sebagai pendekatan yang harus ditempuh dalam proses belajar mengajar serta aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam dunia pendidikan. Karena tanpa adanya konsep tentang hakikat manusia ini, maka dikhawatirkan akan mempersulit untuk menentukan arah pendidikan itu sendiri, khususnya pendidikan islam itu sendiri.






Bab II
Pembahasan
A.    Konsep Dasar Manusia
Manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah paling sempurna dengan struktur jasmaniah dan rohaniah terbaik di antara makhluk lainnya. Muzayyin Arifin mengatakan bahwa dalam struktur jasmaniah dan rohaniah itu Allah memberikan seperangkat kemampuan dasar yang memiliki kecenderungan berkembang yang menurut aliran psikologi behaviorisme disebut pre potence reflex (kemampuan dasar yang secara otomatis berkembang). Kemampuan dasar tersebut kemudian dikenal dengan istilah Pengembangan manusia secara konseptual memandang manusia sebagai suatu kesatuan jasmani dan rohani. Oleh sebab itu, kualitas manusia yang dimiliki oleh suatu bangsa dapat dilihat sebagai sinergistik antara kualitas rohani dan jasmani yang dimiliki oleh setiap individu dari manusia yang bersangkutan tersebut. Sedangkan perkembangan adalah perubahan yang progresif dan kontinyu dalam diri individu mulai dari lahir sampai mati Dengan demikian kekuatan daya pikir dan berkarya yang masih tersimpan dalam dirinya yang perlu dibina dan digali serta dikembangkan untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya.
B.     Hakikat Manusia
Pemikiran tentang hakikat manusia, sejak zaman dahulu hingga zaman sekarang ini juga belum berakhir dan tak akan berakhir. Ternyata orang menyelidiki manusia itu dari berbagai sudut pandangan. Ilmu yang menyelidiki dan memandang manusia dari berbagai segi inilah yang membuat orang tak henti-hentinya berusaha mencari jawaban tentang pertanyaan yang mendasar tentang manusia yaitu Apa, dari mana dan kemana manusia itu.[1]
Berbicara mengenai apa manusia itu, ada 4 aliran yang membahasnya yaitu aliran serba zat, aliran serba ruh, aliran dualisme dan aliran eksistensialisme.
a.      Aliran serba zat mengatakan bahwa yang sungguh-sungguh ada itu hanyalah zat atau materi. Zat atau materi itulah hakikat dari sesuatu. Alam ini adalah zat atau materi, dan manusia adalah unsur dari alam. Maka dari itu hakikat manusia itu adalah zat atau materi.
b.      Aliran serba ruh berpendapat bahwa segala sesuatu hakikat sesuatu yang ada di dunia ini ialah ruh. Juga hakikatnya manusia adalah “ruh”. Adapun zat itu adalah manifestasi daripada ruh di atas dunia ini. Ruh adalah sesuatu yang tidak menempati ruang, sehingga ruh tak dapat disentuh atau dilihat oleh panca indera. Jadi aliran ini berbeda pendapat dengan aliran serba zat yang menempati ruang betapapun kecilnya zat itu.
c.       Aliran dualisme mencoba untuk mengawinkan kedua aliran tersebut di atas. Aliran ini menganggap bahwa manusia itu pada hakikatnya terdiri dari dua substansi yaitu jasmani dan rohani, badan dan ruh. Kedua substansi ini masing-masing merupakan asal yang adanya tidak tergantung satu sama lain. Jadi badan tidak berasal dari ruh juga sebaliknya ruh tidak berasal dari badan. Hanya dalam perwujudanya, manusia itu serba dua, jasad dan ruh, yang keduanya berintegrasi membentuk yang disebut manusia. Antara badan dan ruh terjalin hubungan yang bersifat kasual, sebab akibat. Artinya antar keduanya saling berpengaruh. Sebagai contoh, orang cacat jasmaninya akan berpengaruh pada perkembangan jiwanya. Sebaliknya orang yang jiwanya cacat atau kacau akan berpengaruh pada fisiknya.
Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa pemikiran tentang apa, darimana dan kemana manusia itu tidak ada henti-hentinya.
Berdasarkan kenyataan bahwa manusia itu menpunyai badan jasmani dan mempunyai roh, jiwa dan rohani. Berbicara mengenai badan manusia itu saja kita menemukan paling tidak empat macam pandangan, yaitu sebagai berikut:
  1. Pandangan idealistis tentang badan manusia.
Pandangan ini mengatakan bahwa badan adalah sinar dari roh. Dalam hal ini roh diibaratkan seperti listrik, badan adalah cahaya. Badan dan roh tak pernah bertentangan satu sama lain. Badan seolah-olah tak ada, yang ada hanya roh.

2.      Pandangan materialistis tentang badan manusia
Pandangan materialistis ini dengan tegas mengatakan bahwa yang ada hanya badan. Orang tak perlu berfikir lebih lanjut apa dibalik badan itu. Yang nampak pada kita ialah bahwa manusia berbadan yang bersifat materi, yang terdiri dari darah, daging. Tulang dan sebagainya seperti makhluk-makhluk hidup yang lainya. Dengan begitu kesenangan, kebahagiaan, atau sukarianya tak dapat dilepaskan dari barang materi. Jadi seluruh manusia itu adalah jasmani.
3.      Pandangan ketiga ini berpendapat bahwa badan adalah merupakan musuh dari roh.
Antara badan dan roh selalu bertentangan satu sama lain. Badan dianggap menarik kebawah kejahatan. Pandangan ini biasanya juga dualistis artinya tidak mamandang badan dan jiwa sebagai satu hal yang ada, melainkan sebagai dua hal yang berdiri sendiri.
  1. Pandangan  keempat ini memandang badan manusia sebagai jasmani  yang di rohanikan, atau rohani yang di jasmanikan.
Badan bukan hanya materi. Daging kita tidak sama dengan daging hewan. Pancaindera kita tidak sama dengan panca indera hewan. Jadi kejasmanian manusia itu dengan segala-segalanya, jika dilihat kedudukanya dari keseluruhan manusia, tidak sama dengan kejasmanian hewan. Sebab jasmani manusia adalah jasmani yang dirohanikan atau dalam jasmani manusia itu ruh-lah yang menjasmani.
Demikianlah sebagai gambaran bahwa berbicara tentang hakikat meskipun yang dibicarakan itu benda konkret, seperti badan manusia, ternyata selalu menarik perhatian ahli-ahli pikir dan mereka tak henti-hentinya memikirkannya. Apalagi berbicara tentang hakikat sesuatu yang bersifat gaib, abstrak, seperti ruh atau jiwa atau rohani. Apa yang telah dicapai oleh pemikiran manusia, antara lain berupa ilmu jiwa ternyata belum juga menyentuh hakikat Tuhan, sedang manusia hanya sedikit diberi ilmu tentang itu.



C.    Pandangan Fislafat Pendidikan Islam tentang Hakikat Manusia
Islam berpandangan bahwa hakikat manusia ialah manusia itu merupakan perkaitan antara badan dan ruh.[2] Badan dan ruh masing-masing merupakan substansi yang berdiri sendiri, yang tidak tergantung adanya oleh yang lain. Islam secara tegas mengatakan bahwa kedua substansi (substansi= unsur asal sesuatu yang ada) dua-duanya adalah substansi alam. Sedang alam adalah makhluk. Maka keduanya juga makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT.
Di bawah ini dikutipkan sebuah ayat suci Al-Quran yang menguraikan tentang kejadian manusia.
Al-Qur’an Surat Al-Mukminun 12-14
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.[3]
Dari ayat Al-quran diatas, jelaslah bahwa proses perkembangan dan pertumbuhan fisik manusia, tidak ada bedanya dengan proses perkembangan dan pertumbuhan pada hewan. Semuanya diproses menurut hukum-hukum alam yang material. Hanya pada kejadian manusia, sebelum makhluk yang disebut manusia itu dilahirkan dari rahim ibunya, tuhan telah meniupkan ruh ciptaan-Nya kedalam tubuh manusia. Ruh yang berasal dari Tuhan itulah yang menjadi hakikat manusia. Inilah yang membedakan manusia dengan hewan, karena tuhan tidak meniupkan ruh pada hewan.
Dari uraian diatas, terlihat bahwa manusia terdiri dari dua substansi yaitu materi yang berasal dari bumi dan ruh yang berasal dari Tuhan. Maka hakikat pada manusia adalah ruh itu, sedangkan jasadnya hanyalah alat yang dipergunakan oleh ruh untuk menjalani kehidupan material dialam yang material bersifat sekunder dan ruh bersifat yang primer, karena ruh saja tanpa jasad yang material, tidak dapat dinamakan manusia. Malaikat dinamakan makhluk ruhaniyah tidak memiliki unsur jasad yang material. Tetapi sebaliknya unsur jasad yang material tanpa ruh, maka bukan manusia namanya. Hewan adalah makhluk yang bersifat jasad material yang hidup. Manusia tanpa ruh, tidak lebih dari hewan.
D.    Teori Perkembangan Manusia
Pada pembahasan jiwa (anima) diketahui bahwa manusia memiliki kesempurnaan dibanding makluk yang lain. Manusia dalam hidup mengalami perubahan-perubahan baik fisik maupun kejiwaan (fisiologis dan psikologis). Banyak faktor yang menentukan perkembangan manusia, yang mengakibatkan munculnya berbagai teori tentang perkembangan manusia[4]. Teori-teori tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Teori Nativisme
Pelopor teori ini adalah Athur Schopenhauer. Teori ini menyatakan bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh nativus atau faktor-faktor bawaan manusia sejak dilahirkan. Teori ini menegaskan bahwa manusia memiliki sifat-sifat tertentu sejak dilahirkan yang mempengaruhi dan menentukan keadaan individu yang bersangkutan. Faktor lingkungan dan pendidikan diabaikan dan dikatakan tidak berpengaruh terhadap perkembangan manusia. Teori ini memiliki pandangan seolah-olah sifat-sifat manusia tidak bisa diubah karena telah ditentukan oleh sifat –sifat turunannya. Bila dari keturunan baik maka akan baik dan bila dari keturunan jahat maka akan menjadi jahat. Jadi sifat manusia bersifat permanen tidak bisa diubah. Teori ini memandang pendidikan sebagai suatu yang pesimistis serta mendeskreditkan golongan manusia yang “kebetulan” memiliki keturunan yang tidak baik.


2.      Teori empirisme
Berbeda dengan teori sebelumnya, teori ini memandang bahwa perkembangan individu dipengaruhi dan ditentukan oleh pengalaman-pengalaman yang diperoleh selama perkembangan mulai dari lahir hingga dewasa. Teori ini memandang bahwa pengalaman adalah termasuk pendidikan dan pergaulan. Penjelasan teori ini adalah manusia pada dasarnya merupakan kertas putih yang belum ada warna dan tulisannya akan menjadi apa nantinya manusia itu bergantung pada apa yang akan dituliskan.
Pandangan teori ini lebih optimistik terhadap pendidikan, bahkan pendidikan adalah termasuk faktor penting untuk menenukan perkembangan manusia. Teori ini dipolopori oleh Jhon Locke.

3.      Teori Konvergensi
Teori ini merupakan gabungan dari kedua teori di atas yang menyatakan bahwa pembawaan dan pengalaman memiliki peranan dalam mempengaruhi dan menentukan perkembangan individu. Asumsi teori ini berdasar eksperimen dari William Stern terhadap dua anak kembar. Anak kembar memiliki sifat keturunan yang sama, namun setelah dipisahkan dalam lingkungan yang berbeda anak kembar tersebut ternyata memiliki sifat yang berbeda. Dari sinilah maka teori ini menyimpulkan bahwa sifat keturunan atau pembawaan bukanlah faktor mayor yang menentukan perkembangan individu tapi turut juga disokong oleh faktor lingkungan.

Faktor pembawaan manusia dalam teori ini disebut sebagai faktor endogen yang meliputi faktor kejasmanian seperti kulit putih, rambut keriting, rambut warna hitam. Selain faktor kejasmanian faktor ada juga faktor pembawaan psikologis yang disebut dengan temperamen. Temperamen berbeda dengan karakter atau watak. Karakter atau watak adalah keseluruhan ari sifat manusia yang namapak dalam perilaku sehari-hari sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan dan bersifat tidak konstan. Jika watak atau karakter bersifat tidak konstan maka temperamen bersifat konstan. Selain temperamen dan sifat jasmani, faktor endogen lainnya yang ada pada diri manusia adalah faktor bakat (aptitude). Aptitude adalah potensi-potensi yang memungkinkan individu berkembang ke satu arah. Untuk faktor lingkungan yang dimaksud dalam teori ini disebut sebagai faktor eksogen yaitu faktor yang datang dari luar diri manusia berupa pengalaman, alam sekitar, pendidikan dan sebagainya yang populer disebut sebagai milieu. Perbedaan antara lingkungan dengan pendidikan adalah terletak pada keaktifan proses yang dijalankan. Bila lingkungan bersifat pasif tidak memaksa bergantung pada individu apakah mau menggunakan kesempatan dan manfaat yang ada atau tidak. Sedangkan pendidikan bersifat aktif dan sistematis serta dijalankan penuh kesadaran.
E.     Ciri-ciri Perkembangan Manusia
Perkembangan manusia itu secara umum mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Terjadinya perubahan dalam aspek fisik (perubahan tinggi dan berat badan serta organ tubuh lainnya) dan aspek psikis (bertambahnya perbendaharaan kata dan kematangan berfikir, mengingat serta menggunakan imajinasinya dalam mengeluarkan pendapat maupun kreatifitasnya)
2. Terjadinya perubahan dalam proporsi aspek fisik (perubahan anak menjadi fase remaja serta dewasa) dan aspek psikis (perubahan imajinasi dari fantasi kerealitas)
3. Lenyapnya tanda-tanda yang lama baik dalam aspek fisik maupun aspek psikis.
4. Diperolehnya tanda-tanda yang baru baik fisik maupun psikis didalam tubuh manusia tsb.
 














Bab III
Penutup
A.    Kesimpulan
Setelah melalui pembahasan dalam bentuk uraian diatas dapat kita simpulkan bahwasannya,  manusia merupakan makhluk yang dinamis. Manusia mempunyai potensi untuk berkembang, baik perkembangan dari segi fisik maupun sosialnya. Kedinamisan manusia tersebut  membuat manusia mampu untuk mengubah dirinya menjadi hakikat manusia
B.     Saran dan Kritik
Demikianlah pembuatan makalah ini terselesaikan, tak ada gading yang tak retak. Penulis mohon maaf apabila terdapat banyak kesalahan dalam penulisan makalah ini. Saran dan kritik dari pembaca yang bersifat membangun sangat penulis harapkan guna untuk perbaikan penulisan makalah ke depan.



















DAFTAR PUSTAKA
1.       www.google.com. Hakikat manusia sebagai makhluk pedagogis menurut islam.
2.       Arifin. 2000. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara
3.       Al-Qur’an Surat Al-Mukminun 12-14
4.       Drijarkara S. 1978. Filsafat Manusia. Jogja: yayasan kanisius.







1.       www.google.com. Hakikat manusia sebagai makhluk pedagogis menurut islam.
2.        
3.       Arifin. 2000. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
4.        
5.       Al-Qur’an Surat Al-Mukminun 12-14
6.        
7.       Drijarkara S. 1978. Filsafat Manusia. Jogja: yayasan kanisius.
8.